Warning: Illegal string offset 'id' in /home/pindah2dix/swaraunib.com/wp-content/themes/magazinum/single.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/pindah2dix/swaraunib.com/wp-content/themes/magazinum/single.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/pindah2dix/swaraunib.com/wp-content/themes/magazinum/single.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/pindah2dix/swaraunib.com/wp-content/themes/magazinum/header.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/pindah2dix/swaraunib.com/wp-content/themes/magazinum/header.php on line 4

Warning: Illegal string offset 'id' in /home/pindah2dix/swaraunib.com/wp-content/themes/magazinum/header.php on line 4
Filosofi Kopi
Booklist — October 7, 2012 02:15

Filosofi Kopi

Posted by

“Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang”
“Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. janganlah saling meembendung apabila tak ingin disandung”
“Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring”

Kalimat-kalimat ini adalah beberapa kalimat favorit saya saat membaca filosofi kopi pada bab berjudul Spasi(1998). Mungkin anda akan punya kalimat favorit yang berbeda dengan saya setelah membaca karya fiksi dari Dewi Lestari(Dee) yang juga merupakan pengarang Supernova, Rectoverso, dan Perahu Kertas. Melalui buku Filosofi Kopi ini, Dee ingin menghadirkan bagaimana perjuangan seorang yang memiliki hobi terhadap kopi dan memaknai kopi dari sudut pandang kehidupan.

Berikut ini sedikit testimonial dari Goenawan Mohamad dan FX Rudy Gunawan setelah membaca Filosofi Kopi:

Tidak ruwet, bahkan terang benderang, tak berarti tanpa isi yang menjentik kita untuk berfikir. Ada sebuah bahasa Inggris, wit, yang mungkin bisa diterjemahkan dengan ungkapan ‘cerdas’. Kumpulan prosa ini menghidupkan yang cerkas dan sastra Indonesia – Goenawan Mohamad

Cerpen-cerpen Dee itu persis racikan kopi dari tangan seorang ahli peramu kopi; harum, menyegarkan, dan nikmat. Pahit tapi sekaligus mengandung manis – FX Rudy Gunawan

Yup… betul sekali setelah membaca Filosofi Kopi ini, saya sepakat dengan pendapat FX Rudy Gunawan, bahwa karya Dee ini persis seperti racikan kopi dari seorang ahli peramu kopi, dan betul juga kata Goenawan Mohamad, buku ini memang penuh dengan ungkapan cerdas yang membuat aku terpancing untuk berfikir.

Dan tidak diragukan lagi jika ternyata Filosofi kopi ini dianugrahi sebagai karya sastra terbaik tahun 2006 oleh majalah Tempo dan juga pada tahun 2006 buku ini masuk  5 Besar Khatulistiwa Award kategori fiksi.

Kumpulan cerita dan prosa satu dekade Dee ini berisi 18 tulisan yang terdiri dari prosa lirik, cerita pendek, dan cerita tidak terlalu pendek, dan ditulis dalam rentang tahun 1995-2005.

  1. Filosofi Kopi (1996)
  2. Mencari Herman (2004)
  3. Surat Yang Tak Pernah Sampai (2001)
  4. Salju Gurun (1998)
  5. Kunci Hati (1998)
  6. Selagi Kau Lelap (2000)
  7. Sikat Gigi (1999)
  8. Jembatan Zaman (1998)
  9. Kuda Liar (1998)
  10. Sepotong Kue Kuning (1999)
  11. Diam (2000)
  12. Cuaca (1998)
  13. Lara Lana (2005)
  14. Lilin Merah (1998)
  15. Spasi (1998)
  16. Cetak Biru (1998)
  17. Budha Bar (2005)
  18. Rico de Coro (1995)

Ringkasan Cerita(Wikipedia): Cerita utama dalam buku Filosofi Kopi bercerita tentang Ben dan Jody. Ben merupakan seorang barista yang handal dalam meramu kopi. Bersama Jody, dia mendirikan suatu kedai kopi yang disebut Filosofi Kopi Temukan Diri Anda Di Sini. Ben memberikan sebuah deskripsi singkat mengenai filosofi kopi dari setiap ramuan kopi yang disuguhkannya di kedai tersebut. Kedai tersebut menjadi sangat ramai dan penuh pengunjung. Suatu hari, seorang pria kaya menantang Ben untuk membuat sebuah ramuan kopi yang apabila diminum akan membuat kita menahan napas saking takjubnya, dan cuma bisa berkata: hidup ini sempurna, dan Ben berhasil membuatnya. Ramuan kopi yang disebut Ben’s Perfecto tersebut menjadi yang minuman terenak hingga seorang pria datang dan mengatakan bahwa rasa kopi tersebut hanya “lumayan enak” dibandingkan kopi yang pernah dicicipinya di suatu lokasi di Jawa Tengah.
Ben dan Jody yang penasaran langsung menuju lokasi tersebut dan mereka menemukan secangkir kopi tiwus yang disuguhkan oleh pemilik warung reot di daerah tersebut. Ben dan Jody meminum kopi tersebut tanpa berbicara sedikitpun, dan hanya meneguk serta menerima tuangan kopi yang disuguhkan oleh pemilik warung tersebut. Kopi tersebut memiliki rasa yang sempurna dan ada cerita serta filosofi yang menarik dari kopi tersebut. Ben yang merasa gagal kembali ke Jakarta dan putus asa. Untuk mencari tahu cara menghibur temannya, Jody kembali menemui pemilik warung di Jawa Tengah tersebut dan sepulangnya dari sana, dia menghidangkan Ben segelas Kopi Tiwus. Bersamaan dengan kopi tersebut, dia menmberikan sebuah kartu bertuliskan “Kopi yang Anda minum hari ini Adalah: “Kopi Tiwus. Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”. Pada akhirnya Ben sadar bahwa dia selama ini mengambil jalan hidup yang salah, dan Ben juga sadar bahwa hidup ini tidak ada yang sempurna. Dengan demikian Ben kembali sadar dan melanjutkan perjuangan serta hobinya di kedai filosofi kopi.

  • Share this post:
  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg

3 Comments

  • sayang sekalai jika buku yang satu ini terlewati oleh penikmat penikmat novel dan cerpen di indonesia
    salah satu buku menkjubkan yang dikarang oleh DEE(Dewi lestari) ………..

  • Dan Biarkan Kopi itu terasa nikmat di ujung lidah sang penikmat……!!!

  • Buku-buku hasil karya Dewi Lestari ini selalu menarik untuk ditunggu dan kemudian dibaca. Kelasnya masuk level surreal kalo tidak mau dibilang mindfuck. Mungki itu yang membuat karya DEE sangat dinikmati. Punya karakter tersendiri yang tentunya keren.

Leave a Reply

— required *

— required *